Industri semen nasional mengklaim emisinya turun. Tapi angka itu dihitung dari dalam pagar pabrik, bukan dari bukit kapur yang setiap hari dipapras di hulu.
Batu kapur dibakar di tungku putar bersuhu sampai 1.450 derajat celcius untuk menjadi klinker. Reaksi kimia inilah, bukan sekadar bahan bakarnya, yang melepas paling banyak CO2. Klik tiap tahap untuk melihat rinciannya.
Versi Kementerian Perindustrian. Perhitungan lain menempatkan kalsinasi di kisaran 60 sampai 70 persen dan bahan bakar fosil 30 sampai 40 persen.
Enam belas pabrik semen berdiri di Indonesia dengan kapasitas terpasang 119,9 juta ton per tahun. Yang benar-benar terserap pasar tak sampai 65 juta ton. Lebih dari 98 persen di antaranya dijual di dalam negeri.
Pada 2010, baseline yang dipakai industri, Indonesia punya 9 pabrik dengan produksi sekitar 42 juta ton. Kini 16 pabrik dengan produksi di atas 64 juta ton. Tambahan 22 juta ton semen itu, dengan intensitas 0,60 ton CO2e per ton, setara lebih dari 11 juta ton CO2 baru. Emisi total industri sendiri naik dari 18,7 juta ton pada 2004 menjadi sekitar 30 juta ton hari ini.
Asosiasi Semen Indonesia dan SIG mencatat sejumlah capaian nyata. Angka-angka ini tidak dibantah. Yang dipersoalkan adalah batas wilayah perhitungannya.
CO2 berkurang berkat substitusi material seperti trass, fly ash, pozzolan dan copper slag, atau 11 persen di bawah baseline 2010.
Asperssi, capaian 2020CO2 per tahun ditekan di pabrik SIG Tuban lewat WHRPG berkapasitas 30 MW, yang juga memangkas 152 juta kWh listrik PLN.
SIG TubanCO2 per tahun ditekan Semen Padang dari unit pemanfaatan panas gas buang berkapasitas 8 MW.
Semen PadangThermal substitution rate SIG pada 2025, dari 681 ribu ton bahan bakar alternatif yang menggantikan 467 ribu ton batubara.
SIG, 2025Penurunan emisi scope 1 SIG dari baseline 2010, dan 15 persen untuk scope 2 dari baseline 2019.
SIGKlaim jejak emisi produk semen SIG dibanding semen konvensional.
SIGKita patut mempertanyakan metodenya. Secara itung-itungan, penurunan itu tidak masuk akal di tengah ekspansi industri semen yang semakin masif. Jaya Darmawan, peneliti Celios
Karst bukan sekadar tumpukan batu. Lewat pelapukan kimia batuan karbonat, air hujan yang mengandung CO2 bereaksi dengan batu gamping dan mengikat karbon atmosfer menjadi ion bikarbonat yang terbawa aliran air bawah tanah. Setiap satu ton batu gamping yang terlarut menyerap 0,12 ton karbon.
Angka serapan itu baru dari proses denudasi, belum menghitung vegetasi di atasnya. Artinya, satu industri melepas lebih dari dua kali lipat apa yang mampu diserap seluruh bentang karst negeri ini, sambil menambang bentang itu sebagai bahan bakunya.
Estimasi ilustratif memakai laju serapan 0,5 ton CO2 per hektar per tahun, diturunkan dari kisaran 50 ton CO2 per kilometer persegi per tahun di kawasan tropis lembab. Bukan pengukuran lapangan.
Bagaimana itu bisa dibuktikan jika di saat yang sama, area yang berfungsi menyerap karbon itu justru diambil terus menerus. Petrasa Wacana, Ketua Masyarakat Speleologi Indonesia
Kajian Celios menghitung kerugian ekonomi akibat penambangan batu kapur dan industri semen di kawasan karst Kendeng Utara, salah satu hotspot karst di Jawa. Nilai ini belum menghitung potensi serapan karbon yang lenyap. Klik tiap bagian untuk rinciannya.
Pemerintah dan asosiasi sudah menyusun dokumen dekarbonisasi. Klik tiap tahun untuk melihat isinya.
Menghitung jejak karbon itu harus dari hulu ke hilir. Tidak bisa hanya hilirnya saja, biar jelas antara debit dan kredit karbon yang dihasilkan. Jaya Darmawan, Celios
Mongabay mengirimkan sejumlah pertanyaan lewat surel ke SIG dan Asperssi, sekaligus meminta tanggapan atas kritik tersebut. Sampai laporan ini terbit, tidak ada respons.